Selasa, 28 Januari 2020

Jenis Kayu Yg Ada Di Indonesia


Butuh material kayu untuk furniture, bangunan, produk atau kerajinan, tidak salah lagi Indonesia adalah gudang dari berbagai kayu-kayu yang kelasnya mendunia. Iklim dan tanah nya yang mendukung untuk tumbuh suburnya berbagai vegetasi menyediakan banyak varian kayu kuat dan berurat bagus. Kita sudah sering mendengar tentang kekayaan alam ini secara turun temurun, dan kenyataannya exploitasi kayu di Indonesia sudah berlangsung bahkan jauh sebelum kemerdekaan dan menyisakan lahan-lahan yang kini sudah rusak karna kayu nya sudah dijarah. Meskipun demikian masih banyak kayu-kayu yang saat ini masih dapat kita temukan karna terus dibudidayakan atau distribusinya dikendalikan oleh pemerintah melalui peraturan-peraturan yang ketat, kayu-kayu tersebut dipergunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan sebagian dapat kita beli ditoko material kayu diberbagai tempat. Berikut adalah kayu-kayu asli Indonesia yang mungkin sering ada disekitar kamu dan wajib kamu ketahui :

1. Kayu Pinus Merkusi ( Tusam )





Tusam Sumatra merupakan tumbuhan runjung (Pinophyta) dengan daun berbentuk jarum. Tumbuhan ini berumah satu, berarti organ kelamin jantan dan betina terpisah namun dalam satu individu. Bentuknya pohon dengan tajuk cenderung berbentuk kerucut, walaupun terdapat variasi yang cukup besar.
Tusam di Dataran Tinggi Gayo, mencapai ketinggian 70 m lebih.
Tumbuhan ini mendominasi hutan tropika pegunungan di Indonesia bagian barat pada ketinggian mulai dari 600m di atas permukaan laut hingga sekitar 1500m, khususnya di SumatraPerum Perhutani membudidayakan tusam di sejumlah tempat di Sumatra dan Jawa untuk disadap getah batangnya, sebagai bahan baku terpentin dan gondorukem.

Tusam, Pinus merkusii. di Jakarta



















2. Bambu ( buluh, aur, dan eru )
Kingdom:Plantae
(tanpa takson):Angiospermae
(tanpa takson):Monokotil
(tanpa takson):Commelinids
Ordo:Poales
Famili:Poaceae
Subfamili:Bambusoideae
Superbangsa:Bambusodae
Bangsa:Bambuseae
Kunth ex Dumort.



Kayu komersial

Kayu bambu dihasilkan dari bambu budidaya dan bambu liar, biasanya dari genus Phyllostachys. Di Indonesia, bambu bahan bangunan di antaranya dihasilkan oleh marga-marga Bambusa (misalnya, bambu ampel), Dendrocalamus (mis. bambu betung), dan Gigantochloa (mis. bambu aterbambu gombong).[16][17]

Pemanenan kayu

Bambu yang digunakan untuk kegiatan konstruksi harus dipanen ketika batang mencapai kekuatan tertingginya dan ketika kadar gula di dalam batang berada dalam kondisi terendah, karena keberadaan gula mempermudah bambu untuk diserang hama.

3. Kayu Jati

Siapa orang Indonesia yang tidak pernah mendengar nama Kayu Jati? Kayu yang memiliki predikat kayu kuat ini sering kali menjadi patokan bahan kayu yang berkualitas bagi banyak orang. Kayu yang memiliki warna umum coklat ini memiliki urat bewarna coklat gelap yang berjarak antara satu dengan yang lainnya sedikit jarang. Kayu Jati sebenarnya dibawa ke Indonesia sekitar tahun 1800 oleh Belanda ke Indonesia dan tumbuh subur di beberapa daerah panas di pulau Jawa, dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Kayu Jati yang berkualitas tinggi biasanya di supply oleh daerah yang memiliki temperatur panas dan tanah yang berkapur seperti di Jawa Tengah.

4. Kayu Meranti 
Kayu Meranti memiliki tingkat kekerasan antara 580-770 Kgs/m
Selain sebagai bahan bangunan dan furniture, Kayu Meranti juga dapat di jadikan Pulp untuk kertas dan buah Tangkawang dari beberapa jenis Meranti dapat dijadikan bahan baku untuk kosmetik.
5. Kayu Merbau 
Kayu yang berasal dari Maluku dan Papua ini merupakan jenis kayu keras dan memiliki julukan sebagai Kayu Besi. Kayu Merbau telah menjadi primadona lokal dan eksport sejak lama karna kualitasnya yang superior. Kayu Merbau berwarna coklat abu gelap atau merah coklat gelap dengan arah serat yang hampir lurus. Kayu ini dapat tumbuh menjulang hingga 50 meter dengan diameter hingga 2 meter. Karna kekerasan dan durabilitasnya, Kayu Merbau banyak dijadikan sebagai parkit untuk lantai, tiang bangunan, bak truk hingga digunakan sebagai bahan konstruksi jembatan. Saat ini harga Kayu Merbau cukup bersaing dengan harga Kayu Jati.
Daya tahan Kayu Merbau yang tinggi juga dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi laut. Dalam pengolahannya, Merbau tidak sulit untuk dipotong dan di finishing, tapi cukup sulit untuk dibubut dan di paku karna meskipun keras memiliki sifat getas karna serat-seratnya yang pendek.
Dengan karakteristiknya tersebut, Kayu Merbau dapat dijadikan andalan sebagai bahan bangunan dan konstruksi.
6. Kayu Albasia 
Kayu Sengon atau Albasia merupakan kayu khas daerah tropis dan dapat dengan mudah ditemui diberbagai toko material dalam bentuk kaso atau papan. Kayu Albasia termasuk kayu yang lunak dan sulit untuk langsung di finishing, karakternya yang berbulu dan berpori-pori besar dan mudah patah membuat Kayu ini tidak dapat langsung dijadikan material pembuat produk. Meskipun demikian permintaan Albasia yang meningkat dari tahun ketahun memberikan bukti bahwa penggunaan dan manfaat yang disadari produsen atas kayu ini juga semakin luas. Kenyataannya kayu yang mudah untuk di oleh ini dipergunakan sebagai bahan utama pembuatan kayu olahan seperti triplex dan blockboard, stick ice cream, pensil, korek api hingga bahan baku untuk kertas.
Papan dan balok Kayu Albasia sering kita temukan menjadi material bangunan penyangga dan sementara, digunakan untuk packing pada shipping atau pallet untuk barang. Warna nya putih kotor bercampur coklat tampa urat, berpori-pori besar dan lunak.
7. Kayu Cendana 
Wangi, itulah kesan pertama yang anda dapatkan pada kayu Cendana. Kayu yang sering digunakan sebagai bahan baku dupa dan produk-produk kerajinan ini sebenarnya bukan merupakan golongan pohon yang tinggi bahkan bisa disebut sebagai parasit. Pohon Cendana hanya tumbuh hingga 15 meter dengan diameter batang hanya 30 cm, sulit dibudidayakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat dipanen namun sangat diminati dipasaran menjadikan kayu ini relatif cukup mahal, bahkan dijual dengan takaran kilogram. di Indonesia Kayu Cendana putih dapat tumbuh subur di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur) dan telah menjadi komoditas eksport sejak lama.
Kayu Cendana yang diubah menjadi produk kerajinan dan furniture sebaiknya tidak di coating, tapi justru dibiarkan polos agar wangi dari Kayu Cendana ini dapat dinikmati saat berinteraksi dengan produk tersebut. Kayu ini sangat baik dan kokoh untuk dijadikan furniture dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi baik didalam maupun diluar negeri.

8. Kayu Ulin

Kayu Ulin merupakan salah satu kayu yang dapat dijadikan sebagai material pembuat kapal yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra bagian selatan. Kayu Ulin dapat tumbuh hingga 50cm dengan diameter hingga lebih dari 1 meter. Kayu Ulin terkenal sangat tahan perubahan suhu, kelembaban, tidak mudah dimakan rayap dan pengaruh air karna bersifat berat dan keras.
Kayu Ulin dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan terutama konstruksi. Di daerah tempat ditemukannya banyak Kayu Ulin yaitu Kalimantan, kayu ini sejak dahulu kala dipergunakan sebagai bahan pembuat rumah panggung bagi penduduk lokal. Selain itu Kayu Ulin juga sering dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk digunakan sebagai bahan kerajinan seperti patung hingga perhiasan.
Kayu Ulin termasuk Kelas Kuat I dan Kelas Awet I dengan berat jenis 1.04.
9. Kayu Eboni
Kayu yang memiliki nama latin Diospyros Celebica ini, kini sudah cukup langka. Perpaduan warna hitam dan coklat dengan urat yang kontras pada kayu yang terkenal dengan nama Macassar Ebony dan Black Ebony ini membuatnya menjadi kayu yang sangat diburu oleh bangsa Jepang, Eropa dan Amerika. Kegiatan eksport kayu ini mencapai puncaknya pada tahun 1973 dengan jumlah mencapai 26.000 m3 dan terus menurun hingga kini ditetapkan oleh IUCN dan 2000 WCN (World Conservation Union) Red List of Threatened Species sebagai kayu yang dilindungi.
Pohon Kayu Eboni dapat tumbuh hingga 40m dengan diameter hingga 1 meter dan merupakan kayu kelas awet 1 dan kelas kuat 1 dengan berat jenis rata-rata 1.05 (0.90-1.14), dengan berat jenis ini kayu Eboni tergolong berat dan tidak dapat mengapung di air.
Kayu dengan urat yang eksotis ini kerap dijadikan bahan baku pembuatan alat musik seperti gitar, piano hingga biola. Kayu ini juga digunakan sebagai tongkat, ukir-ukiran, patung dan juga perhiasan.
10.  Kayu Trembesi 
Beberapa waktu yang lalu, sebuah perusahaan rokok membuat program CSR dengan penanaman ribuan bibit pohon Trembesi, alasannya pohon Trembesi merupakan salah satu jenis pohon yang dapat menyerap hingga 28.5 ton gas CO2. Selain manfaatnya sebagai penyerap gas CO2 yang baik, Kayu Trembesi kini juga semakin diminati oleh pasar lokal dan Asia untuk dijadikan bahan baku furnitur, ukiran dan patung. Hal ini disebabkan oleh urat Kayu yang dimiliki Kayu Trembesi yang menawan.
Kayu Trembesi mudah tumbuh diberbagai daerah Tropis dan curah hujan yang tinggi mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku hingga Nusa Tenggara. Kayu Trembesi dapat tumbuh hingga mencapai 40m dengan diameter hingga 4.5 meter. Kayu Trembesi yang juga disebut Kayu Meh di daerah Jawa yang berarti “hampir menyerupai Kayu Jati ini sering diubah menjadi furniture indoor yang tebal-tebal dan lebar hingga 1.5meter, hal ini disebabakan kekuatannya yang kurang dan cukup lentur sehingga pengolahan kayu ini lebih condong dipotong lebih besar. Kepadatan atau Density Kayu Trembesi yang kurang membuatnya kurang cocok dijadikan bahan baku furniture outdoor. Selain menjadi bahan baku Furniture, Kayu Trembesi juga sering digunakan sebagai bahan pembuat veneer.
Kayu Trembesi memiliki berat jenis 0.60 dengan tingkat keawetan kelas IV dan Kelas Kuat III. Pohon Kayu. Kayu Trembesi kurang awet karna menghasilkan minyak kayu yang membuatnya tahan terhadap serangan rayap lebih sedikit dibandingkan dengan Kayu Jati.

 Kayu yang memiliki nama lain Yellow Balau atau Balau ini banyak ditemukan di Indonesia, Malaysia dan Filipina. Di Indonesia, Kayu ini banyak dipasok dari hutan Kalimantan. Kayu Bangkirai dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter hingga 120 cm. Kayu ini bewarna kuning kecoklatan dengan kekerasan antara 880-990 kg/m3 hingga 1050 kg/m3 pada kekeringan 12%. Pada suhu normal Kayu Bangkirai dapat kering dalam waktu 12 hingga 1 bulan. Ikatan antar serat yang kuat dan mudah diolah menjadikan kayu ini cocok untuk decking, outdoor furniture, dan berbagai keperluan konstruksi lainnya namun pada beberapa jenis bangkirai seratnya cenderung mudah terbuka dam mudah melintir sehingga tidak disarankan dipergunakan pada konstruksi yang membutuhkan kestabilan tinggi.Kayu Bangkirai cukup terkenal didunia perkayuan dengan tingkat keawetan dari kelas I hingga kelas III dan Kelas Kuat I dan II. Kayu Bangkirai memiliki berat jenis rata-rata 0.91.


12 Kamper 
 
Dahulu kala penggunaan getah beberapa jenis Kayu Kamper menjadi kapur barus merupakan kegiatan bisnis primadona yang membuat Sumatera menjadi terkenal. Penggunaan kapur barus dapat ditemui pada buku History of Sumatera (1783) yang ditulis oleh William Marsden, Kimiya’Al-‘Ltr (Abad ke-9) yang ditulis oleh Al-Kindi dan Actius dari Amida (502-578) serta berbagai tulisan lainnya yang mempropagandakan penggunakan kamper/kapur barus, bahkan disebutkan pula bahwa pada abad ke 2 masehi terdapat bandar dagang yang terkenal menjual kapur barus bernama Barosai. Kini penggunaan kapur barus semakin meluas dan dibuat pula sintetisnya dengan terpentin. Selain wangi, kapur barus juga dipergunakan untuk mengawetkan mayat dan tidak disukai oleh hama. Demikian pula kayu kamper, kayu ini termasuk kayu yang tahan hama sehingga banyak diminati banyak orang.
Kayu Kamper berwarna coklat muda hingga coklat kemerahan dan hampir mirip dengan Kayu Mahoni. Kayu Kamper termasuk Kayu berkelas awet II, III dengan kelas kuat I dan II, Meskipun Kamper dapat ditemui diberbagai daerah, Kayu Kamper yang berasal dari Samarinda terkenal halus dibandingkan dengan daerah yang lain. Selain Kamper Samarinda, dipasaran dikenal juga Kamper Singkil, Kamper Kapur dan Kamper Banjar.
13. Sonokeling 
Ini dia Rosewood-nya Indonesia, Sonokeling, Sonobrit, Sonosungu atau Sanakeling merupakan kayu yang memiliki corak yang indah, bewarna coklat gelap dengan alur-alur berwarna hitam membuat kayu ini terlihat sangat eksotis. Pohon Kayu Sonokeling dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter mencapai 2 meter. Pohon ini dapat ditemui di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama didaerah-daerah yang berbatu dan agak kering.
Kayu Sonokeling dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis produk, mulai dari furniture, alat musik, hingga alat-alat olah raga. Dengan Berat jenis 0.77-0.86 dengan kadar air 15%, Kayu ini juga termasuk kayu indah kelas 1, kelas awet I dan kelas kuat II. Karna Sonokeling termasuk kayu keras, maka kayu ini dahulunya sering digunakan sebagai bahan konstruksi dan bahan pembuat kusen-kusen mewah yang kuat. Kayu Sonokeling yang juga memiliki kadar air yang rendah serta cukup menghasilkan minyak kayu juga terkenal tahan akan serangan rayap dan jamur pembusuk kayu.
14. Sungkai
Kayu berwarna terang ini merupakan material Kayu yang sering digunakan oleh pengrajin untuk membuat furniture indoor. Kayu Sungkai juga diolah oleh industri menjadi veneer yang warna dan coraknya banyak diminati oleh pasar. Dengan corak Kayu perpaduan antri warna kuning, coklat muda dan kuning setelah kuning, Kayu Sungkai dapat mempertegas kesan segar dan compact pada furniture indoor.
Dipasaran harga Kayu Sungkai jelasnya lebih murah di bandingkan harga Kayu Jati atau Sonokeling, oleh karna itu pemakaiannya juga lebih luas dibandingkan Kayu Jati, Sonokeling atau Ulin yang kelasnya lebih tinggi. Dari segi kualitas, meskipun coraknya cukup menawan, kayu ini hanya termasuk kayu Kelas Kuat II dan III dan Kelas Awet II dan III juga. Massa jenis dan bobot Kayu Sungkai apalagi jika telah melalui proses Kiln atau pengeringan akan lebih berat sedikit di bandingkan Kayu Pinus, Oleh karna itu, penggunaannya disarankan bukan untuk keperluan outdoor kecuali dengan treatment khusus. 
15.  Kayu Pinus atau Cemara
Dari beberapa artikel yang saya baca, pada dasarnya Pohon Pinus dan Cemara memiliki ciri fisik dan nama latin yang berbeda pula, namun corak kayu nya tidak berbeda terlalu signifikan. Kayu Cemara memiliki warna yang lebih menonjol dibandingkan Kayu Pinus, Kayu Cemara terkesan lebih merah dan pekat dibandingkan warna Kayu Pinus yang lebih kuning dan terang. Selain itu Kayu Cemara memiliki banyak (mata) karna lebih banyak ranting dan cabang dibandingkan Kayu Pinus.
Pinus dan Cemara memiliki banyak manfaat, mulai dari segi religius (sering digunakan sebagai pohon natal) hingga kesehatan. Selain itu, Kayu nya juga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Kayu Pinus dan Cemara terkenal lembek dan mudah rusak, kepadatan kayunya yang kurang justru dimanfaatkan untuk produk-produk kayu yang membutuhkan pengolahan ringan, disposable dan flamabelity yang tinggi seperti korek api dan palet kayu untuk shipping. Kayu Pinus dan Cemara termasuk Kayu dengan Kelas Awet dan Kuat level III. Kayu Pinus dan Cemara memiliki densitas/kepadatan 480-520 kg/m3 dan kadar air MC 12% dan butuh waktu 12-15 hari untuk pengeringan.
Meskipun Kayu Pinus dan Cemara kini sering digunakan untuk  furniture, sebaiknya perlu diingat bahwa kayu ini merupakan kayu dengan kekuatan dan keawetan rendah, warnanya mudah berubah dibawah sinar matahari. Disarankan jika dipergunakan sebagai furniture sebaiknya menggunakan ukuran yang tebal dan tidak terkena air. 
16. Kelapa
Diberbagai belahan dunia, kayu kelapa telah dipergunakan sebagai material untuk berbagai keperluan karna keberlimpahannya di alam. Mulai dari kerajinan hingga furniture, Kayu Kelapa menjadi Kayu yang hampir semua orang kenali. Kayu Kelapa telah digunakan sebagai tiang-tiang bangunan hingga jembatan karna kekuatannya. Kayu ini memiliki corak yang unik, perpaduan coklat tua dan coklat muda yang kontras yang berbentuk lurus-lurus. Serat-serat kayu kelapa cukup pendek sehingga pada papan olahan dari kayu kelapa terlihat seperti goresan-goresan pendek. Serat berwarna gelap merupakan serat yang lebih keras dibandingkan serat yang lebih terang.
Kayu Kelapa tergolong kayu Kelas Kuat II dan III dengan berat jenis dari 0,5 hingga 0,9 tergantung umur dari pohon tersebut. Densitas Kayu Kelapa rata-rata 400 kg/m3 dengan diameter batang hingga 50cm dan hampir lurus keatas.
Salah satu  produk akhir dari Kayu Kelapa yang saat ini menjadi produk andalan ekspor adalah parket Kayu Kelapa. Parket Kayu Kelapa saat ini menjadi primadona dipasar Eropa karna menjadi salah satu produk olahan Kayu yang mendapat predikat Eco Labelling.
Kayu ini dapat diolah dengan baik menggunakan mesin-mesin namun sulit untuk diberi bahan pengawet karna termasuk kayu yang padat. Kayu Sonokeling sejak tahun 1998 dicatat sebagai kayu yang dilindungi karna sudah terancam punah, oleh karna itu bijak menggunakannya dan memanfaatkannya secara efektif dan efisien adalah keharusan bagi pengguna nya. 
17. Kayu Mahoni
Butuh kayu untuk di bengkok-kan (bend) dan mampu bertahan lama dalam bentuk tertentu serta sangat baik difinishing duco atau alami maka Kayu Mahoni merupakan kayu yang tepat. Baik secara vertikal maupun secara horizontal Kayu Mahoni cukup baik dalam uji tekan sehingga dapat diaplikasikan penggergajian dari berbagai arah dengan baik. Karna kayu ini lebih lunak dibandingkan Kayu Jati, Kayu ini cukup mudah untuk di ukir dan dibentuk sesuai keinginan.
Kayu Mahoni cukup tahan terhadap serangan hama kayu, dan ketika di proses seperti pemotongan atau dipaku tidak mudah retak, dan cukup mudah untuk diampelas. Kayu ini tahan terhadap keretakan saat di steam pada proses pembengkokan. Kayu Mahoni memiliki ciri fisik berwarna merah pada bagian dalamnya, berpori-pori kecil dan plain (coraknya tidak terlalu kelihatan).
Pohon Kayu Mahoni dapat dipanen pada umur 7 hingga 15 tahun, dan dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis. Penggunaan Kayu Mahoni cukup luas karna kekuatan dan ketersediaanya yang cukup banyak sehingga banyak digunakan didunia konstruksi dan pertukangan. Pohon Kayu Mahoni dapat tumbuh hingga berdiameter 125cm dengan tinggi 35-45 m. Pohon ini sering ditanam dipinggir jalan karna ditengari dapat mengurangi polusi udara hingga 69% dan membantu penangkapan air serta berdaun lebat sehingga menjadi peneduh dipinggir jalan.
18.  Kayu Aren 
Orang yang sakti dan punya ilmu kebal, jika ditusuk dengan ruyung tetap akan mati. Kepercayaan orang Sunda terhadap pepatah ini dapat ditemukan logikanya, Kayu Aren atau Ruyung terhitung keras dan jika disabet pinggirannya setajam sembilu.  Pengolahan Kayu Aren dapat merusak mesin pengolah seperti ketam mesin dan gergaji lebih cepat dibandingkan kayu yang lain, hal ini disebabkan Kayu Aren memiliki urat kayu yang berwarna hitam yang sangat keras. Karna masih dalam keluarga Palma, Kayu Aren memiliki corak seperti Kayu Kelapa, namun perbedaan yang kontras dapat terlihat dari warna-nya yang jauh lebih gelap dibandingkan Kayu Kelapa.
Aren, Enau, Hanau, Peluluk, Moka dan banyak lagi sebutan untuk tumbuhan aren ini memiliki pohon yang dapat tumbuh hingga 25 m dengan diameter hingga 65cm. Bagian batang Aren yang dapat digunakan sebagai papan adalah bagian agak luar hingga 10cm kearah dalam. Sedangkan bagian dalamnya lebih mudah rusak karna lebih lunak. Selain batang, Kayu Aren kita kenal sebagai penghasil gula merah, aren atau enau, dan penghasil kolang-kaling. Tidak sedikit yang mengubah air enau menjadi tuak diberbagai daerah di Indonesia karna air nira cepat terfementasi di udara.
Di negara Jepang, parket Kayu Aren yang berwarna hitam cukup disukai meskipun eksportir mengatakan bahwa biasanya mereka lebih meyukai warna-warna kayu yang terang. Di daerah seperti Sulawesi, Kayu Aren biasanya digunakan sebagai papan, gagang pisau, gagang cangkul dan empulurnya dijadikan untuk penyaluran air.
Selain berbagai jenis kayu yang sudah disebutkan tadi, Indonesia memiliki banyak jenis kayu endemik dan kayu-kayu yang berkualitas tinggi lainnya yang harus kita jaga keberlangsungan supplynya serta dapat kita manfaatkan untuk berkarya. Untuk itu yuk kita tingkatkan pengetahuan dan skill kita dalam memahami material ini agar kita dapat menghasilkan nilai tambah dari berbagai material mentah yang disediakan oleh alam seperti kayu.

Selain di cat, finishing kayu ternyata ada banyak macamnya loh !

Finishing produk kayu merupakan salah satu penentu pasar untuk produk kayu yang dihasilkan. Dalam hal ini bukan hanya subjektifitas atau selera dari market tersebut tapi juga meliputi faktor keamanan, dan kekuatan dari produk itu sendiri.
Pasar dunia pertama saat ini banyak yang menerapkan ketentuan keamanan dari produk melalui peminimalisiran bahkan penolakan bahan finishing kimiawi. Untuk itu produsen kayu harus mencermati kebutuhan dan selera dari pasar ini dalam menentukan pemilihan bahan untuk finishing.

Pada dasarnya finishing kayu terdiri dari dua jenis, yaitu finishing alami atau finishing buatan;

  1. Finishing alami dapat menggunakan bahan finishing yang terbuat dari material alami atau dengan teknik tertentu untuk menghasilkan permukaan yang diinginkan.
  2. Sedangkan finishing buatan pada dasarnya menggunakan material kimiawi.

Finishing juga ditentukan oleh jenis kayu, kekeringan, teknik serta kondisi lingkungan tempat finisihing. Faktor-faktor ini memiliki pengaruh cukup signifikan pada hasil finishing;

  1. Jenis kayu berkepadatan rendah seperti kayu dengan kelas 3 dan 4 memiliki pori-pori yang lebih besar dan banyak sehingga membutuhkan material finishing yang lebih banyak dan pengolahan yang lebih banyak dibandingkan kayu yang kelasnya lebih tinggi. Jenis kayu juga menentukan finishing seperti apa yang dapat digunakan.
  2. Tingkat kekeringan kayu juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas hasil finishing bahkan terhadap kayu itu sendiri. Finishing yang sifatnya menutup pori-pori kayu, yang di sebut coating atau film akan mendapat resistensi baik cepat atau lambat dari kayu yang tidak kering secara sempurna sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada finishing dari dari dalam kayu seperti bercak, retak atau pengelupasan yang menghasilkan kualitas produk akhir yang tidak maksimal.
  3. Teknik juga memberikan dampak yang signifikan pada hasil akhir finishing terutama terhadap teksturnya. Penggunaan kuas, kain bal, spray gun atau celup menghasilkan tekstur dan ketebalan finishing yang berbeda yang pada akhirnya juga mempengaruhi kuantitas material finishing serta durasi yang dibutuhkan dalam pengeringan. Selain menentukan tekstur yang dihasilkan, teknik yang digunakan juga tergantung pada material finishing yang digunakan. Teknik dan SOP finishing yang tepat menghasilkan finishing yang baik dan durabilitas yang lebih panjang.
  4. Faktor luar seperti lingkungan tidak kalah pentingnya dalam menentukan hasil finishing yang baik. Panas matahari atau buatan, kebersihan tempat serta cuaca dapat mempengaruhi hasil dan lama pengeringan hasil finishing. Kelembaban dan suhu tempat berperan penting dalam kekuatan hasil finishing dan durasi yang dibutuhkan dalam pengeringan. Material finishing memiliki reaksi kimiawi dalam suhu tertentu, sedangkan molekul air yang terdapat dalam udara dapat bercampur pada bahan finishing. Molekul padat seperti kotoran dan debu sangat mudah menempel pada material saat proses pengeringan sehingga hasil produk. Utamanya pada proses finishing secara outdoor atau diluar chamber, cuaca dapat mempengaruhi suhu dan kelembaban udara.

Material Alami yang umum digunakan untuk finishing kayu

Material alami yang digunakan dalam dunia pengolahan kayu pada dasarnya adalah material-material selain olahan pabrikan yang komposisinya sudah dimodifikasi dengan teknik-teknik tertentu. Material alami ini dapat kita temui pula disekitar kita walaupun tidak sedikit pula yang sudah dikemas dan dijual dipasaran. Material-material tersebut mengubah kayu secara visual, dan sifat dasarnya seperti ketahanan, bau dsb. Berikut beberapa material alami yang sering digunakan oleh perajin lokal maupun internasional.

Pernis merupakan salah satu finishing kayu paling populer di Indonesia. Selain bahan pernis alami seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ada pula pernis-pernis sinteris yang merupakan enhancement dari penis alami atau benar-benar material finishing yang dibuat agar menambah durability dan ketahanan bahan tersebut. Berikut ini material finishing lainnya yang dapat kita temui di toko-toko material kayu:
  1. Melamine. Atau melamin tersedia dalam bentuk gloss dan doff. Melamine membentuk film dan menutupi pori. Film ini membutuhkan waktu untuk mengeras. Melamine mengandung formaldehyde yang berbahaya dan banyak negara dunia pertama tidak memperbolehkan mengimport produk dengan finishing ini.
  2. PU. Polyurethane menghasilkan lapisan film seperti plastik dan cukup tebal. Warnanya pun tersedia cukup cerah dan lebih baik dibandingkan melamin. PU pun lebih cepat mengering di bandingkan bahan finshing material yang lain.
  3. Lacquer. Merupakan pelitur sintetis yang berfungsi sebagai coating. Di Palembang, furniturenya dikenal dengan Laker yang awalnya menggunakan Shellac. Karna harga dan kekuatannya, mereka migrasi ke lacquer. Lacquer terdiri dari beberapa tipe seperti :
    1. Akrilik. Lacquer akrilik diformulasikan dengan polimer resin sehingga membentuk bahan seperti kaca. Biasanya digunakan pada furniture yang rawan terkena air seperti bar dan kitchen set.
    2. NC atau Nitrocellulose. Seperti akrilik hanya lebih banyak digunakan pada bahan selain kayu karna lebih lama keringnya.
    3. Solvent (Pengencer) alkohol, dll atau water base. Lacquer dengan pelarut air kini menjadi alternatif yang cukup banyak di minati pasar Amerika dan Eropa.
Selain material, kini dalam dunia pertukangan kayu juga banyak teknik yang digunakan untuk mendapatkan hasil akhir yang unik dan eye catching. Teknik-teknik ini kadang dipadukan dengan material-material yang sudah di sebutkan sebelumnya.

Berikut teknik-teknik yang menarik yang dapat digunakan untuk finishing kayu:

Selain material dan teknik yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada banyak lagi yang bisa di jadikan karakteristik produk yang kita buat. Semakin unik produk yang dihasilkan berpadu dengan presentasi yang menarik, akan semakin besar pula peluang agar produk kita diminati oleh pasar.
Eksperimen dan eksplorasi terhadap penggunaan material dan teknik yang kita miliki akan memberikan kita pengetahuan yang menarik. Mari terus berkarya.


Sambung-an Kayu Dasar (Basic WoodWorking Joints)

Sambungan Kayu Dasar 

(Basic Woodworking Joints)



Joint atau sambungan adalah salah satu jawaban dari pertanyaan umum “padahal bentuknya simple banget, tapi kenapa harganya mahal ya?”. Yup konsep minimalis yang awalnya muncul dari Zen, filosofi orang Jepang dalam meminimalisir distraction (gangguan) agar lebih fokus namun memberikan perhatian luar biasa pada detail dan sambungan salah satu detail tersebut dalam pembuatan furniture terutama furniture yang berbahan kayu, rotan atau bambu.
Didalam dunia pertukangan kayu, sambungan merupakan penggabungan dua unsur kayu dengan teknik-teknik tertentu untuk mendapat mendapatkan bentuk yang lebih kompleks. Selain kayu itu sendiri teknik penyambungan kayu dapat pula melibatkan baut, skrup, lem dsb. Selain menambah kekuatan, sambungan saat ini sering kali di ekspos untuk meningkatkan kualitas visual dari desain furniture itu sendiri. Masing-masing pekerjaan perkayuan dalam beberapa hal memiliki karakteristik sambungan tersendiri, misalnya sambungan untuk furniture dengan teknik pada bangunan ada berbagai perbedaan.

Faktor utama pembuatan sambungan adalah kekuatan, oleh karna itu salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sambungan adalah arah urat kayu. Arah urat kayu yang salah dapat menyebabkan pembuatan sambungan yang sia-sia. Pembahasan tentang arah urat kayu ini nanti akan dibuatkan artikelnya tersendiri.
Berikut ini beberapa jenis sambungan dasar yang umum kita temui dalam pertukangan kayu :


Selain sambungan-sambungan dasar yang telah disebutkan barusan, masih banyak kreasi sambungan lain yang memang dibuat untuk di ekspose. Apa anda salah satu yang membuat karakter sambungan anda sendiri?
Semoga artikel ini berguna, baik bagi anda yang bekerja sebagai perajin kayu, desainer atau sebagai konsumen yang lebih cerdas.


Alat Pertukangan manual apa saja yang saya butuhkan jadi tukang kayu?


Pisau, palu, tang, obeng, gergaji dan banyak lagi alat, perkakas manual atau hand tools sudah merupakan bagian dari kehidupan kita walaupun kita tidak berprofesi sebagai perajin. Terutama dirumah alat-alat tersebut perlu ada mengatasi kerusakan tertentu di sewaktu-waktu. Terlebih bagi perajin, bengkel bahkan industri, perkakas tersebut wajib hukumnya untuk dimiliki. Tidak perlu listrik, mudah dipahami dan mudah digunakan, bahkan sebagian untuk survival di hutan.
Salah satu karakter yang unik dari para perajin di Indonesia adalah menggunakan seminimal mungkin alat untul mengerjakan banyak tipe pekerjaan. Misalnya menggunakan satu tipe gergaji saja untuk berbagai macam pemotongan atau menggunakan satu jenis pisau saja untuk modeling kayu dan sebagai nya, tentu saja bukan dengan tujuan menjeneralisir perajin, tapi tidak sedikit yang saya temukan demikian.

Berbeda dengan kita, pengembangan perkakas manual di Eropa, Amerika atau Jepang cukup signifikan dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karna permintaan terhadap percepatan dan detail pekerjaan yang semakin tinggi dari waktu kewaktu. Perkakas yang lebih spesifik dapat membantu konsistensi dari tiap pekerjaan dan efisiensi pekerjaan itu sendiri. Semakin berkembang intelektual dan referensi visual serta imajinasi mereka, semakin kompleks pula kebutuhan perkakasnya. Development perkakas yang spesifik juga membuka peluang baru bagi perkembangan desain dan pengetahuan itu sendiri.
Dalam artikel ini saya akan menjabarkan beberapa turunan dari perkakas manual yang digunakan  pada pertukangan kayu sehingga dapat dijadikan referensi baik bagi anda yang berprofesi sebagai perajin, atau pengusaha yang ingin atau sudah bergelut dibidang perkayuan :


  1. Gergaji. Gergaji merupakan alat potong yang sangat dibutuhkan dalam pertukangan. Gergaji yang tepat dapat membantu perajin atau tukang mendapatkan potongan yang halus dan presisi. Gergaji belah dan potong wajib dimiliki di workshop manapun, sedangkan untuk pekerjaan yang lebih spesifik tersedia berbagai jenis gergaji yang lain.
  2. Palu. Sebagaimana kita ketahui, palu biasanya digunakan untuk memasukkan paku kedalam kayu, namun selain itu palu yang merupakan alat yang serbaguna juga sering digunakan untuk hal lain, seperti memecahkan batu dan sebagainya dalam pekerjaan pertukangan. Selain palu yang terbuat dari besi cor, palu dari kayu dan kayu dari karet juga termasuk palu yang penting dimiliki tukang kayu, untuk memahat atau pengatur posisi kayu agar tidak merusak kayu itu sendiri.
  3. Kapak. Selain untuk membelah atau memotong kayu, kapak juga sering digunakan untuk mendapatkan bentuk dasar kayu sebelum dibentuk menjadi kerajinan yang lebih detail untuk karya-karya dengan ukuran yang besar. 
  4. Ketam. Serut atau rautan sebutan lain yang sering kita dengar untuk alat ini merupakan alat yang digunakan baik untuk mendapatkan ukuran kayu tertentu, membuat profil maupun menghaluskan permukaaan kayu yang sulit didapatkan dengan menggunakan ketam mesin.
  5. Tang. Bahkan di industri besar sekalipun, tang merupakan hand tool yang tidak mungkin dipisahkan dari pekerjaan teknik, termasuk perkayuan. Berbentuk seperti buaya dan memiliki banyak jenis, tang memiliki fungsi sebagai pemotong maupun penjepit dalam satu gigitan.
  6. Obeng. Obeng kembang, atau obeng plus maupun obeng minus berfungsi sebagai pengencang skrup. Mengikuti banyaknya ragam skrup, obeng tersedia dalam banyak sekali jenis.
  7. Parang. Baik untuk mencincang, menebas, mencatuk atau memotong, parang merupakan alat serbaguna yang harus ada di bengkel perkayuan. Secara berurutan setelah kapak, parang memiliki efisiensi yang baik untuk menebang kayu, atau mendapatkan area tebasan yang lebih luas.
  8. Pahat. Selain untuk membuat ukiran, pahat juga merupakan alat utama untuk membuat sambungan kayu, seperti dovetail, dado, rabbet, finger joint dsb. Berteman dengan palu, pahat bertujuan untuk mendapatkan hasil rautan dengan ukuran dan arah tertentu.
  9. Amplas. Sebelum kayu di finishing, permukaan kayu perlu diperhalus agar halus dan menghasilkan pekerjaan yang maksimal dengan menggunakan amplas. Atau bahkan dapat dipergunakan membongkar hasil finishing yang ingin dimodifikasi.
  10. Penggaris. Penggaris siku maupun penggaris biasa merupakan teman setia dari gergaji dalam mengejar kepresisian pekerjaan perkayuan. Penggaris tidak hanya digunakan pada kayu lapis tentunya untuk mendapatkan konsistensi maupun detail yang baik.
  11. Meteran. Penggaris yang biasanya terbatas hingga ukuran 1 meter dapat di bantu dengan meteran untuk mendapatkan ukuran-ukuran dasar.
  12. Kuas. Kuas dipergunakan baik untuk mengoleskan material finishing pada permukaan, membersihkan debu pada alat dan permukaan sebelum di oles material finisihing maupun mengoleskan lem.
  13. Batu Asahan. Batu asahan digunakan untuk mempertajam permukaan pisau, mata pahat, mata ketam, maupun parang agar dapat selalu dalam kondisi optimal ketajamannya.
  14. Kikir. Kikir dipergunakan sebagai penajam mata gergaji, beberapa jenis kikir juga dipergunakan untuk menghaluskan permukaan yang sulit dijangkau dengan amplas pada kayu seperti lobang tenon.
Alat-alat yang disebutkan tadi merupakan alat-alat yang umum bagi tukang maupun perajin kayu, semakin bertambahnya kebutuhan bentuk, kepresisian, konsistensi, kesempuranaan dan kecepatan pengerjaan, alat-alat yang lebih spesifik dan turunan dari alat-alat yang telah disebutkan diatas ada lebih banyak lagi. Bagaimana menurut anda, apakah ada yang terlewatkan?

Contact kami : adatukangkayu